Laju Deforestasi Ancam Vegetasi

Source: Internet

 

Laju deforestasi semakin tak terbendung. Alih  fungsi lahan dan pemanfaatan kawasan yang tidak bersahabat dengan lingkungan dapat mengancam keseimbangan ekologis. Cerminan yang paling dekat adalah kondisi Sungai di Riau yang semakin memprihatinkan.

Salah satu indikatornya adalah hutan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terancam gundul. Untuk itu menekan laju forestasi masih menjadi perhatian serius dalam menjaga permasalahan ekologis. Salah satu dampak yang dapat dirasakan adalah banjir yang kerap menyerang saat memasuki musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau menghampiri.

Pemerhati Lingkungan Tengku Ariful menilai, ancaman ekologis yang terlihat diawali dengan sub DAS. Saat hutan sub DAS sudah gundul, dampak ekologis akan menghampir secara nyata. Ini terlihat pada empat sungai terancam, Kampar, Indragiri, Rokan dan Siak yang semakin terhimpit di tengah laju deforestasi.

‘’Dari Hulu hingga Hilir dipastikan kawasan penyangga sangat tidak memadai. Sebagai akibatnya, karena daerah tangkapan air terganggung, maka daya tampung dan daya dukung juga akan semakin berkurang,’’ tuturnya saat berbincang dengan Riau Pos, akhir pekan lalu.

Deforestasi adalah proses penghilangan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan lahan hutan menjadi non-hutan. Bisa juga disebabkan oleh kebakaran hutan baik yang disengaja atau terjadi secara alami. Deforestasi tidak hanya berimbas pada terganggung ekosistem. Tetapi juga mengancam kehidupan umat manusia dan spesies makhluk hidup lainnya. Sumbangan terbesar dari perubahan iklim yang terjadi saat ini diakibatkan oleh deforestasi.

Dengan kondisi ini, daya tampung sungai dalam menerima beban air saat musim hujan menjadi berkurang. Selain itu partikel yang tercuci dari humus akan mengendap di muara sungai. Hal tersebut  secara tidak langsung menyebabkan daya tampung berkurang.

‘’Ini yang dikhawatirkan dampak dari laju deforestasi itu. Pada gilirannya akan meluber ke kiri dan kanan. Banjir akan memperparah lagi, efek dominonya akan berbicara terus, sampai nanti pada akhirnya bencana ekologispun menghampiri,’’ imbuh Akademisi Universitas Riau itu.

Lebih jauh ia menilai, ancaman deforestasi tersebut sudah semakin tak terbendung. Ini terlihat dari anak sungai di Riau yang diprediksi hampir 40 persen sudah menjadi kawasan daratan, karena peran ekologisnya tidak berfungsi lagi.

‘’Dampak yang paling terlihat adalah pada musim kemarau menjadi daratan, pada musim hujan akan mengalir dan akan terjadi banjir. Sehingga tingkat keparahan banjir akan meningkat,’’ sambungnya.

Dampak lain yang terlihat adalah dengan sedimentasi yang luar biasa, sehingga bentoz dan plankton akan terancam punah. Bentoz dan plankton yang tidak tersedia, sehingga udang ikan juga akan berkurang. Sehingga terjadi perubahan tatanan struktur dalam tatanan kehidupan di sepanjang daerah aliran sungai. Hal ini diawali dengan rusaknya vegetasi dan ancaman kepunahan biota perairan.

Untuk itu, perlu solusi yang konkrit. Seperti perlu dipetakan itu tingkat keparahan dari kerusakan itu sendiri. Begitu juga ancaman jumlah curah air saat hujan yang tertinggi dan lamanya genangan air yang merupakan kawasan yang menjadi daerah tangkapan air.

‘’Dampaknya akan menimbulkan kerugian dari berbagai faktor. Makanya sebelum terlambat, perlu ada komitmen bersama untuk menyelamatkan kondisi lingkungan agar tidak terus digerus kerusakan laju deforestasi,’’ sambung pria yang mengaku terus mengikuti perkembangan kawasan sungai di Riau.

Salah satu penyebab, tambah Ariful, adalah alih fungsi lahan. Dimana alih fungsi lahan muncul ketika masyarakat berfikir untuk merubah satu kawasan menjadi yang lebih produktif dari sisi ekonomi. Akhirnya keseimbangan hidrologi dan vegetasi terancam. Ditambah lagi sawit adalah tanaman yang rakus dengan air. Pada gilirannya saat musim hujan, kawasan yang mengandung gambut.

Secara umum kawasan daerah aliran sungai memang memiliki sejuta pesona ekologi yang eksotis. Begitu juga fenomena aneka flora dan fauna sebagai salah satu warisan kekayaan keanekaragaman hayati. Selain itu bibir pantai memiliki peran substansi dalam menjaga keseimbangan alam. Penyelamatan dengan meresttorasi fungsi penyangga dan siklus hidrologi bibir pantai menjadi hal yang mendesak untuk mengeliminir bencana ekologis.

Vegetasi di DAS pada prinsipnya kaya akan sumberdaya alam hayati. Salah satunya ekosistem mangrove dengan beragam varian unik dengan segudang fungsi ekologisnya. Salah satu perannya yang sangat substansi adalah melindungi dan meminimalisir abrasi.

Sementara ekosistem mangrove yang berada di kawasan rawa atau tanah endapan lumpur di sekitar garis pantai akan melindungi tanah agar tidak tergerus oleh air laut. Proses alami air laut biasanya akan terjadi saat air laut mengalami pasang dan surut. Dengan proses ini maka tanah di sekitar garis pantai bisa terbawa oleh air laut dan menyebabkan daratan menjadi semakin mengecil. Jika hal ini terus terjadi maka garis pantai akan mengalami erosi dan menyebabkan bencana alam untuk manusia.

‘’Singkat cerita pekerjaan yang tidak terpola dengan baik, akan mengancam kehidupan secara totalitas. Makanya kita sudah saatnya untuk berbenah ke prilaku yang lebih dekat dengan lingkungan,’’ harap Ariful lagi.

 

Source: Riau Pos

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


2 × four =