Produk Kreatif Ramah Lingkungan Lebih Laku di Luar Negeri

Photo: AJENG DINAR ULFIANA|KATADATA

 

Pebisnis rintisan yang menjual produk ramah lingkungan (eco friendly) mengaku, permintaan terbesar selalu datang dari luar negeri seperti kawasan Eropa. Banderol harga yang dianggap lebih mahal kerap menjadi alasan konsumen lokal batal membeli.

Hal tersebut dikemukakan beberapa jenama di bidang ekonomi kreatif, yakni Sapu Upcycle, Evoware, dan Mycotech. Pada satu sisi, para pelaku usaha dapat memahami respon konsumen domestik yang relatif kurang memiliki kesadaran seputar isu lingkungan hidup.

Pendiri Sapu Upcycle Erika Firniawati menyatakan bahwa sekitar 70% dari volume produksi bulanan yang berkisar  1.500 pieces dikirim ke Eropa. “Pembeli produk kami biasanya menemukan kami melalui kegiatan pameran. Paling banyak pembeli kami dari Inggris dan Perancis,” katanya kepada Katadata.co.id, Selasa (4/12).

Sejak awal merintis bisnis, Sapu Upcycle fokus kepada strategi pemasaran dengan cara aktif turut serta dalam pameran. Opsi lain ialah dengan sistem konsinyasi atau semacam menitipkan produk di toko tertentu yang dinilai mewakili segmen konsumen yang mereka bidik.

Sapu Upcycle merupakan jenama produk fesyen berbahan baku ban bekas truk. Usaha rintisan bermarkas di Semarang, Jawa Timur ini berkiprah sejak 2010. Kini terdapat puluhan varian produk, seperti tas dan perhiasan.

“Perbedaan utama karakter konsumen lokal dan asing memang penerimaan harga. Produk kami ini upcycling, dari limbah itu proses pengolahannya lebih panjang. Konsumen asing lebih mengapresiasi produk ramah lingkungan,” ujar Erika.

Co Founder Evoware David Christian menjelaskan, kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengendalikan sampah yang dihasilkan masing-masing individu terbilang minim. Tak heran, lebih dari 80% konsumen Evoware juga berada di luar negeri.

“Ekspor kami lazimnya ke Eropa dan Amerika. Bagi konsumen lokal produk kami (dianggap) mahal. Kami memang menargetkan volume produksi meningkat agar lebih massal dan harga lebih terjangkau,” katanya.

Evoware memulai bisnis desain produk dan kemasan ramah lingkungan sejak 2016. Perusahaan rintisan ini sekarang bisa dapat memproduksi sekitar 200 gelas dan 10 meter kemasan per hari.

Sementara itu, jenama Mycotech mengaku bahwa kapasitas produksi menjadi tantangan untuk meningkatkan daya saing dengan produk konvensional lokal. Volume produksi yang relatif terbatas membuatnya sukar mematok harga kompetitif.

CTO dan Co-Founder PT Miko Bahtera Nusantara Arekha Bentangan mengatakan, volume produksi Mycotech belum semassal produk konvensional. Kapasitas produksi akan terus ditingkatkan agar dapat memberi harga yang kompetitif, khususnya untuk konsumen lokal.

“Kami belum bisa turunkan harga kami di bawah produk konvensional. Di dalam negeri banyak yang tertarik pakai produk kami tetapi kerap jadi masalah adalah harga. Jadi, sekitar lebih dari 50% produk kami itu diekspor,” tuturnya.

Mycotech hadir dalam wujud aneka material berbahan baku jamur yang separuh permintaannnya berasal dari luar negeri. Produk yang kini dipasarkan terutama panel dengan fungsi dekoratif, material konstruksi spasial serupa pohon, serta produk fesyen ekslusif.

source: katadata

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


seventeen + 4 =