APP Menjawab Greenpeace: Terima Kasih, Tetapi…

Foto : PortalHijau.Com

 

Pertarungan Masih Belum Selesai

Asia Pulp & Paper (APP) kecewa dengan pernyataan yang dirilis oleh Greenpeace hari ini. Menurut APP, Greenpeace telah menjadi mitra integral dalam perjalanan keberlanjutan mereka sejak 2013, dan keterlibatan serta dukungan mereka telah menghasilkan banyak kemajuan dalam memerangi deforestasi di Indonesia.

Greenpeace berperan penting dalam penyusunan Kebijakan Konservasi Hutan atau Forest Conservation Policy (FCP), yang telah membantu APP mencapai rantai pasokan bebas deforestasi. Di antara banyak pencapaian lainnya, APP juga telah mengidentifikasi dan melindungi lebih dari 600.000 hektare hutan alam melalui penerapan Pendekatan Stok Karbon Tinggi (High Carbon Stock Approach) dan studi Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value) dalam konsesinya terhadap pemasok pihak ketiga. Pernyataan Greenpeace, bagaimanapun, telah memperluas masalah ini ke seluruh Grup Sinar Mas, yang berada di luar lingkup FCP.

Selama tiga bulan terakhir, APP telah berkomunikasi dengan Greenpeace secara transparan untuk mengatasi masalah yang diangkat oleh laporan kantor berita Associated Press (AP). Mereka telah memberikan konteks tentang masalah kepemilikan dalam rantai pasokannya dan menjelaskan bahwa APP akan menolak setiap perusahaan yang melanggar FCP terlepas dari siapa pemegang saham mereka, bahkan jika mereka adalah organisasi milik keluarga Widjaya. Sinar Mas Forestry (SMF) adalah divisi dalam APP dan bukan perusahaan saudara, dan karenanya, APP bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan oleh SMF.

Namun, menurut APP, isu-isu yang dikutip oleh Greenpeace dalam pernyataan mereka berfokus pada tindakan bisnis yang tidak berada di bawah yurisdiksi langsung APP, dan ada di luar komitmen FCP sesungguhnya.

APP diinformasikan tentang niat Greenpeace untuk mengurangi keterlibatannya dengan APP pada Februari, sebagian sebagai hasil dari kekhawatiran yang diangkat dalam laporan kantor berita AP, serta perubahan dalam pendekatan mereka untuk keterlibatan dengan masalah kehutanan. APP tidak pernah memahaminya sebagai akhir dari segala keterlibatan sebagaimana pernyataan mereka.

Mengenai masalah PT Muara Sungai Landak (PT MSL), berikut adalah fakta yang disampaikan APP:

Pada 2014, para pemangku kepentingan kami meminta untuk memperjelas hubungan kami dengan 70 perusahaan kehutanan, termasuk PT MSL. Oleh karena itu, kami menunjuk empat auditor besar sebagai pihak independen untuk mengaudit hubungan kami dengan PT MSL dan perusahaan lain di dalam dan di luar rantai pasokan kami untuk menentukan hubungan ekonomi yang dimiliki APP dengan mereka. Audit menyimpulkan bahwa PT MSL tidak memiliki hubungan dengan APP dan tidak ada kayu mereka yang berasal dari rantai pasokan kami. Itu tetap berlaku sampai hari ini.

Namun, sebagai akibat dari tuduhan yang ada dalam laporan AP, kami melakukan penyelidikan dan menemukan bahwa tiga pemegang saham MSL — dan bukan dua seperti yang tercantum dalam laporan dan pernyataan Greenpeace — memiliki hubungan dengan APP. Dua orang mantan karyawan APP yang keluar pada Oktober 2015 dan November 2015 serta satu orang lainnya adalah karyawan saat ini yang belum menyatakan kepemilikan saham dan posisinya di dalam MSL. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap Kode Etik APP karena menunjukkan konflik kepentingan langsung. Karyawan tersebut telah diberhentikan dengan segera.

Hasil investigasi ini juga telah diberikan kepada Greenpeace.

Sementara itu, mengenai perusahaan lain yang kasusnya diangkat dalam pernyataan Greenpeace, yaitu Golden Energy and Resource (GEAR), pihak APP tidak dapat berbicara atas nama mereka. GEAR beroperasi secara independen dan tidak memasok kayu ke APP.

Luas lahan 8.000 hektare yang disebutkan dalam pernyataan mengacu pada konsesi yang tidak dimiliki oleh APP, dan yang tidak memiliki yurisdiksi atasnya. APP tidak membeli pasokan kayu dari pemilik konsesi ini.

Greenpeace, bersama-sama dengan LSM lainnya, telah bersusah payah menunjukkan kepada kita bahwa pengelolaan hutan yang bertanggung jawab tidak hanya penting dalam memerangi perubahan iklim, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan. Ini telah menjadi faktor kunci dalam mengubah budaya organisasi APP, yang telah berkontribusi pada kemajuan yang telah dibuat sampai sekarang.

Memang diakui, ada area yang belum berkembang secepat yang kita inginkan, tetapi kita harap dengan kolaborasi dari organisasi-organisasi seperti Greenpeace, area tersebut akan bisa terus ditingkatkan.

APP tetap berkomitmen untuk bekerja dengan semua pemangku kepentingan dan percaya bahwa mereka dapat mencapai lebih banyak lagi jika mau bekerja sama. Perjuangan melawan penggundulan hutan di Indonesia adalah masalah yang rumit dan bukanlah merupakan persoalan internal sehingga setiap organisasi dapat menyelesaikannya sendiri.

Era kerja sama antara Greenpeace dan APP telah mencapai banyak hal, tetapi pertarungan masih jauh dari selesai.

Source : Eco Daily

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


five + 6 =