Siklus Jelajah Terganggu, Invasi Gajah di Riau Makin Tak Menentu

Foto : Istimewa

 

Kecemasan warga Desa Minas Jaya, Kabupaten Siak, akan kehadiran kawanan Gajah Sumatera mulai reda. Hanya saja, diprediksi kondisi ini tidak akan berlangsung lama karena siklus jelajah 11 ekor gajah yang kerap menginvasi ke perkebunan mereka sudah terganggu karena terancamnya habitat serta pakan yang kurang.

Koordinator Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Saipul Hendri Daulay mengatakan, biasanya gajah penunggu kawasan Tahura itu hanya muncul satu atau dua kali dalam setahun. Belakangan laporan kian meningkat, hingga dua kali atau lebih dalam sebulan.

“Oktober hingga November lalu, sampai ada 12 kali penanggulangan,” kata Saipul dihubungi wartawan dari Pekanbaru, Rabu (5/11).

Saipul menyebutkan, kawanan gajah di Riau punya daerah jelajah dari Minas, lalu menuju Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru kemudian ke Garuda Sakti kilometer 11 Karya Indah, Kabupaten Kampar.

“Namun karena berkurangnya habitat dan pakannya siklusnya berubah,” sebut Saipul.

Saipul menyebutkan, kawanan gajah di Minas berhasil digiring anggota PLG dibantu masyarakat menuju Tahura. Desa ini memang berbatasan langsung dengan Tahura dan juga dekat dengan kantor Camat Minas.

Menginvasi ke pemukiman warga hingga belakang kantor camat, kawanan gajah ini memakan tanaman sawit yang masih muda. Kebun warga juga tak luput dari sasaran satwa berbadan bongsor ini.

“Penggiringan kali ini tidak melibatkan gajah jinak, hanya menggunakan bunyi-bunyian seperti mercon,” sebut Saipul.

Lebih jauh Saipul menceritakan, setiap penanggulangan personel PLG selalu bersosialisasi kepada masyarakat agar tidak melukai gajah. Masyarakat juga diminta tidak melakukan tindakan gegabah karena sewaktu-waktu gajah bisa menyerang.

“Memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak takabur,” sebut Saipul.

source: trubus

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


20 + 1 =